Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Agustus 2014

Mancing bersama Cak Pri

Mancing bersama Cak Pri (Juara 1 Lomba Mancing Kutuk 2014)

“ Can you remember, remember my name………klik! “ saya segera mematikan lagu “ Perfect Stranger “ nya Deep Purple dari HP yang sengaja saya letakkan dekat sekali dengan telinga di samping bantal. SMS ini pasti dari Cak Pri, saya yakin karena kemarin saya memintanya untuk membangunkan saya pagi-pagi, lebih awal dari kebiasaan saya sehari-hari. Pagi itu saya sudah janjian untuk mancing bersama dengan dia di Tambak Prapat,  sudah lama saya tidak mancing bareng dengan Juara 1 Lomba Mancing Kutuk 2014 ini.


Tambak Prapat di pagi hari

“ Aku berangkat duluan Kang, ketemu di lokasi saja ya “ SMS nya kepada saya.

Saya jawab singkat,” Ok Kang, thank ! “.

Tepat jam 5.00 pagi saya berangkat dari pintu rumah, jam 5.15 saya tiba di lokasi, gelap dan dinginnya udara pagi tidak mampu menghambat perjalanan saya karena saking terbiasanya saya kelayapan pagi-pagi di tambak. Apalagi musim kemarau begini jalanan di tambak relative mudah bagi saya, lain halnya kalau  musim hujan. Dari kejauhan saya sudah melihat Cak Pri mengayun-ayunkan joran pancingnya, casting di dekat pohon menghadap ke selatan.

“ Tarik Kang ! “, sapa saya kepada Cak Pri.

“ Tarik…..ha..ha…ha ! “ balas Cak Pri ramah.

“ Dapat berapa ? “, tanya saya.

“ Itu, dapat dua, segedhe jempol…ha..ha..ha..lumayan Kang ! “, jawabnya.

Berikutnya kami berdua mancing bersama sambil ngobrol ngalor-ngidul seputar mancing, terutama tentang lomba kemarin.

Cak Pri, Juara 1 Lomba Mancing Kutuk 2014, yang punya nama asli Supriyadi ini memang ramah, supel, dan mudah akrab dengan siapapun. Seorang yang low profile, lebih suka mengalah, bisa ngemong, dan hampir tidak pernah serius, selalu kocak dan jenaka. Itulah sebabnya dia bisa akrab dengan semua rekan di Mancing Kutuk Gabus.


Cak Pri (Juara 1 Lomba Mancing Kutuk 2014)


“ Hadiah satu juta rupiah kemarin buat apa Kang ? “, tanya saya kepada Cak Pri.

“ Habis Kang......saya pakai tambahan buat beli freezer, saya sudah janji sama nyonyah, saya suruh doakan agar saya menang, eeeehhh…ndak tahunya bener Kang. Sudah lama dia minta saya belikan freezer untuk usaha sampingan, baru kemarin itu saya bisa,….yah…. Alhamdullillah dapat juara 1. “, jawab Cak Pri sambil cerita panjang lebar tentang keinginan isterinya untuk usaha sampingan.

“ Yah..syukurlah Kang, semuanya bisa jadi berkat, dan manfaat “, saya ikut terharu dan bersyukur dengan cerita Cak Pri.

Sebagian orang beranggapan, mancing adalah sekedar hoby, acara senang-senang untuk sekedar relaksasi dan refressing, untuk mengisi waktu luang, yang tentunya akan mengeluarkan biaya. Mancing adalah semacam acara anut grubyuk yang bisa membuat orang kecanduan, lalu berikutnya menyia-nyiakan waktu dan membikin orang jadi malas kerja. Bahkan ibu saya sendiripun pernah berkata demikian kepada saya, saat memberi nasehat kepada saya, karena tahu bahwa saya hoby berat mancing.

Untunglah yang demikian tidak terjadi di Mancing Kutuk Gabus, bahkan sebaliknya, mancing ternyata lebih dari sekedar senang-senang, dan ini telah diteladani dengan baik oleh Cak Pri, juara 1 Lomba Mancing Kutuk 2014.

“ Tarik Kaaaaang ! “, teriakan Cak Pri menyadarkan saya dari lamunan, suara wak wik joran kami yang sejenak tidak terdengar oleh telinga saya yang sedang larut dalam perenungan, tiba-tiba tergantikan oleh bunyi percikan air dan gejobak monster yang meronta-ronta saat fight dengan Cak Pri.

“ Uoooh…muantab kang…..muantab kaaang ! “, teriak saya berkali-kali menyemangati Cak Pri.

Seekor monster berhasil naik dengan sempurna di tangan Cak Pri, “ mantaaaaabbbbb ! “, teriaknya sambil meneteng monster tersebut di tangan kirinya.


Cak Pri strike monster, 27 Agustus 2014


“ Sampeyan memang pantas untuk juara kang….. mantab…mantab ! “, mulut ini tak sengaja terus memberi pujian kepada Cak Pri.

bersambung

Oleh :
Admin. Mancing Kutuk Gabus






Jumat, 15 Agustus 2014

Fotografi Pra Lomba

Mrs. Yellow Stone

Masih ada 9 hari buat para peserta lomba untuk mempersiapkan diri, sebelum tiba hari yang dinantikan oleh semua tokoh-tokoh kutuk, yaitu pada saat nanti Abah Eric meniup peluit, Minggu 05.00 pagi 24 Agustus 2014.

Untuk saya pribadi, rasanya tidak ada yang perlu saya persiapkan terlalu khusus menghadapi lomba, karena memang set peralatan mancing saya selalu siap setiap hari untuk menghadapi monster. Yang jadi persoalan adalah bahwa akhir-akhir ini trip saya seringkali galau, jangankan monster, omset yang kecil-kecil saja susahnya minta ampun.

Pagi itu saya sengaja bangun lebih awal daripada hari-hari sebelumnya, saya mau latihan melempar umpan, saya mau mencari tenggakan, saya mau mencari pangkatan, gapuran, dll. Pokoknya saya pingin omset pagi itu, syukur-syukur apabila bisa dapat monster, seperti yang saya angan-angankan malam harinya sebelum tidur.

Saya sengaja trip sendirian pagi itu, mencari lokasi tambak yang jauh, yang mungkin tidak akan ketemu pemancing-pemancing kutuk yang lain. Tanpa ada informasi sebelumnya mengenai lokasi tersebut, saya hanya mencari lokasi secara asal-asalan, pokoknya nanti ada tambak yang kelihatannya bagus sesuai feeling saya, akan saya coba. Toh nanti pada saat lomba, kami semua juga tidak akan tahu spot-spotnya, karena lokasi lomba baru diumumkan nanti tepat pada saat lomba. Anggap saja trip saya pagi itu adalah simulasi dari lomba itu sendiri, namun bedanya kali ini saya tidak ada saingan.

Nah…saya tiba di lokasi tambak (maaf tidak saya sebut tambak mana yang saya kunjungi, jelas nanti anda semua akan meluncur ke sana…ha..ha…ha…!), lalu singkat cerita saya mencari tempat untuk menaruh pantat dan mencabut peralatan saya.

Tambak itu tidak terlalu lebar, tetapi panjangnya tidak umum, panjang sekali. Airnya kelihatan bening bagus dengan ganggang-ganggang di tengah-tengahnya yang tertata rapi sepanjang tambak tersebut, dan di tempat ganggang-ganggang itu ada kolong-kolongnya yang dibatasi dengan bambu, saya hitung kurang lebih ada 18 kolong-kolong ganggang, “ wuih…jelas kutuk thok iki ! “ pikir saya dalam hati.

Matahari mulai muncul dari ufuk timur, pagi yang tadi gelap di tambak itu mulai sedikit terang. Air tambak yang tadi sepi senyap tanpa tanda-tanda kehidupan, mulai beriak-riak dan berkecopak oleh gerakan-gerakan ikan. Ada suara batuk-batuk dari dalam gubuk, mungkin penjaganya terbangun oleh suara wak wik joran saya ketika melempar umpan.

Benar juga, beberapa saat kemudian pintu gubuk berbunyi dibuka, seorang bapak yang berperawakan kecil dan kurus keluar dari gubuk sambil batuk-batuk. Rambutnya yang sedikit dan ubanan terlihat agak mengkilap oleh sinar matahari yang mulai terbit, ingin saya memotretnya, sebuah model photo yang klasik dalam pandangan saya, tapi saya urungkan, karena beliau segera menoleh kearah saya. Berikutnya tanpa menghiraukan saya, beliau berjalan ke arah tukuan dekat pohon-pohon pisang, lalu berjongkok di atas tukuan sambil menyalakan rokok. Saya yakin dia sedang membuang sesuatu di situ.

Satu jam berlalu, tak satupun lemparan saya menghasilkan gondholan, padahal sudah lima kali saya mengganti percil karena rusak dan terlepas, “ wah… alamat galau lagi hari  ini … “, pikir saya dalam hati. Kalau simulasi tanpa pesaing saja galau, bagaimana saya nanti menghadapi lomba, rasa was-was tiba-tiba muncul di benak saya, saya mulai hanyut dalam kekhawatiran, kesedihan. Motivasi saya adalah nanti bisa tampil sebagai juara. 

Memikirkan juara, saya jadi teringat Gus Salam, “ sialan benar Gus Salam, tanpa latihan rutin, jarang-jarang trip, cuma berbekal mesam-mesem thok sambil terkekeh-kekeh,..heh..heh…heh… bisa tampil menjadi juara pada lomba tahun lalu…benar-benar sialan itu orang ! “, saya mulai mengutuki Gus Salam dalam hati.

Seekor capung kuning hinggap di pucuk joran saya, yang  terdiamkan beberapa saat, tak sengaja lupa memainkannya, saat pikiran ini hanyut memikirkan Gus Salam. Rupanya capung kuning itu sengaja menyadarkan saya dari lamunan. Begitulah pemancing, sering ngelamun kalau terlalu lama tak ada gondholan.

Joran pancing saya pegang lagi dengan sadar, reel pancing saya gulung, dan capung itupun terkejut lalu terbang, rupanya dia juga sedang melamunkan sesuatu, “ aneh capung kok juga senang berlama-lama ngelamun ? “, saya ngoceh sendirian.

Aneh lagi ketika saya selesai melempar percil,  capung itu hinggap lagi di pucuk joran saya, mungkin pucuk joran ini adalah tempat yang pas untuk melamun, untuk permenungan, seperti halnya tukuan untuk bapak tadi, seperti halnya pojok-pojok tambak untuk saya,…haa..ha…ha.

Menjumpai yang aneh-aneh membangkitkan gairah saya untuk mengambil gambar, pikiran jelek tentang Gus Salam langsung sirna, stick pancing saya taruh perlahan-lahan di tanah, capung itupun terbang lagi, untungnya hinggap mendekati saya. Kamera saya keluarkan, saya set sebentar untuk khusus memotret capung (makro).



Mrs. Yellow Stone

Lima kali saya jepret di tempat pertama, dua jepretan saya hapus karena kabur, satu lagi saya hapus karena posenya tidak saya inginkan, satu gambar (gambar di atas) saya anggap cukup memuaskan, satu lagi dengan hasil gambar yang relative sama, saya simpan untuk cadangan.

Butuh waktu agak lama bagi saya untuk memilih-milih gambar capung dari kelima jepretan tadi, maklum usia, mata ini seharusnya pakai kacamata plus 125, tapi jarang saya pakai karena Lily tidak suka saya pakai kacamata, “ kayak orang cupu….culun punya ! “ katanya, tentang saya kalau sedang memakai kaca mata.

Lily adalah putri saya yang terakhir, teringat akan Lily sambil memilih-milih gambar capung memunculkan ide untuk memberikan sebuah nama kepada capung kuning tadi. Lily memang suka memberi nama kepada hewan-hewan yang dijumpainya. Kupu-kupu yang masuk ke rumah diberinya nama Elsa. Anak kucing yang lahir di bawah mobil saya, diberinya nama Ana. Tikus yang lengket di jebakan lem di dapur, diberinya nama Vavia. Kecoak yang terlentang dan menggeliat-geliat di kamar mandi karena insektisida yang saya semprotkan , diberinya nama Kamsa, dan masih banyak lagi nama-nama hasil imajinasinya. Untuk itu capung ini saya beri nama Mrs. Yellow Stone, sesuai imajinasi saya .

Mrs. Yellow Stone selesai pada sesi pemotretan yang pertama, dan kini dia menghendaki untuk pengambilan gambar di tempat lain.


Saya senang sekali photography, saya terus mempelajari dan melakukannya, di sela-sela kegiatan mancing saya, di rumah, di tempat kerja, dan dimana-mana ketika saya ingin melakukannya. Sayangnya saya tidak bisa bercerita dan berbagi banyak hal tentang photography, tidak seperti Pak Man di Tambak Bibis, yang bisa bercerita banyak dan detail tentang kutuk dan seluk-beluk kehidupannya. Ataupun Cak Martin Bogank, yang bisa menjelaskan secara terperinci cara memainkan umpan tikus-tikusan untuk mengelabui kutuk-kutuk yang sembunyi di tempat-tempat rungsep dan belukar. Sayang pada saat lomba nanti umpan tikus-tikusan tidak diperbolehkan, semua pemancing harus menggunakan umpan percil (anak kodok) asli, tidak peduli cari percil akhir-akhir ini susahnya minta ampun.

Saya tidak bisa membayangkan nanti Sabtu malam sebelum lomba, areal persawahan seperti Durung Beduk, Beduk Dowo, Modong, Sidodadi, Grinting, dan lain-lain akan semarak dengan kerlap-kerlip lampu senter oleh para Hunter percil. “ Kayak kemamang…hua…ha…ha…ha ! “, kata Abah Eric pada saat rapat.




Mrs. Yellow Stone beranjak ke tempat lain, saya terus mengikutinya dengan kamera, seperti layaknya seorang photographer beneran, atau seorang paparazzi, “ paparazzinya kepik…hua…haa..haa ! “, Kang Win pernah mengejek saya demikian.

Kang Win adalah salah seorang anggota Mancing Kutuk Gabus yang pernah menderita stroke sampai 2 kali, Alhamdullilah mendapat mujizat dari Tuhan, dan sembuh total hingga sekarang, terus aktif bersama Mancing Kutuk Gabus. Keahliannya dibidang percetakan dan printing, menjadikan tempat bagi saya untuk meminta saran dan pendapat ketika editing photo. Beliau sudah mempersiapkan diri jauh-jauh sebelum lomba dengan mengganti line senarnya, memborong beberapa ukuran mata kail dan membersihkan serta melumasi reelnya, begitu optimis untuk bisa tampil sebagai juara atas keberuntungan. “ Yang penting partisi-sapi, eh partisi-spasi hua..ha…ha.. ! “, teriaknya sambil tertawa ngakak.




Mrs. Yellow Stone tampak begitu anggun ketika mendongakkan kepalanya sedikit ke atas, imajinasi saya berkembang, mungkin dia sedang mengatakan, “ save dragonfly, selamatkan capung ! “. Tetapi selamatkan capung dari apa, tidak ada yang pernah berslogan demikian. 

Ada begitu buanyak komunitas capung di tambak, dan itu tidak akan terusik selama tambak-tambak tersebut masih ada. Kalau di luar negeri ada slogan, “ save penguin ! “, itu lebih beralasan, karena kehidupan penguin mulai terancam oleh limbah-limbah industry yang dibuang orang  ke laut.

Rasanya juga tidak beralasan kalau ada yang mengkhawatirkan bahwa suatu saat nanti di Sidoarjo pun akan ada, “ save kutuk ! “, atau akan ada slogan, “ stop hunting percil, save frog ! “. Alasannya karena akhir-akhir ini para pemburu kodok professional mulai kesulitan untuk mendapatkan yang besar, “ bagaimana bisa besar, kalau yang kecil-kecil pada diburu ? “, katanya. Kutuk juga makin langka, buktinya harganya kini melambung karena langka, kilahnya.

Jangan khawatir kawan, selama kita tidak melakukan kegiatan eksploitasi yang sangat berlebihan dengan penuh keserakahan, dengan cara manual dan tidak menggunakan peralatan atau metode yang bisa merusak lingkungan, alam akan terus bersahabat dengan kita. Alam akan ikut berbahagia, ketika kita semua berkumpul dan berbahagia, dan kita semua tahu batasan-batasannya.

Di tambak, kutuk-kutuk itu adalah hama, dan kita semua ini hanya mencari kutuk di dalam tambak, dan itu juga hanya dengan cara mancing, bukan dengan cara paksa yang lain. Kalau mereka tidak makan umpan kita, mereka juga tidak akan kena pancing, benarkan. Toh setiap kali tambak itu juga dipanen, dan tentunya kutuk-kutuk yang ada di situ akan dibersihkan sekalian pada saat panen. Jadi kalau demikian, adakah hubungan antara kelangkaan kutuk nanti dengan Mancing Kutuk Gabus ?

Lalu tentang kemungkinan terjadinya kelangkaan percil, percil itu bisa hidup dimana-mana mereka suka, sesuai dengan  cara hidupnya, habitatnya. Cobalah mencari mereka di tempat-tempat mereka biasa ada pada musim hujan, tetapi kita mencarinya pada saat kemarau, dan tanah-tanah tempat mereka itu kering, sulit kan, dimanakah mereka ? Tetapi kembalilah mencari di sana pada saat musim hujan, dan tanah-tanah itu mulai basah berair, kenapa jadi mudah, darimanakah mereka datang ?

Selain itu kita semua ini mencari percil dengan cara tebek (tangkap dengan tangan), hanya mereka yang tampak saja yang bisa kita ambil, itupun mereka yang diam saja pada saat kita tebek, yang gesit-gesit jelas tidak akan pernah kena tebek. Apalagi mereka yang terus menerus sembunyi di tempat-tempat yang sulit, di tengah-tengah padi, tebu-tebu, semak-semak misalnya. Mereka tetap hidup dan lestari sampai sesuatu terjadi atas mereka atas ijin Yang Maha Kuasa tentunya.

“ Dapat banyak pak, kutuknya ? “, tanya Pak Mu’in (penjaga tambak) menyadarkan saya dari lamunan.
“ Ohhh…Pak Mu’in… satupun tidak pak ! “, jawab saya setengah kaget dengan keberadaan Pak Mu’in yang tiba-tiba di samping saya.
“ Masak satu saja tidak bisa dapat pak, padahal pagi tadi nenggak-nenggak segitu banyak, mungkin  karena air banger ini barangkali, mereka sudah pada kenyang dengan udang-udang yang ngantang.”, kata Pak Mu’in.

Matahari mulai naik lebih tinggi, panasnya mulai terik menyengat pipi, saya ingin segera bergegas pulang, tetapi Mrs. Yellow Stone masih menunggu saya di sekitar itu, sepertinya menunggu untuk sesi pemotretan yang terakhir hari itu. Dan saya juga menunggu Pak Mu’in segera meninggalkan saya, supaya saya bisa lebih konsentrasi dengan Mrs. Yellow Stone tanpa gangguan Pak Mu’in di samping saya.




Entah mengapa saya paling suka dengan capung sebagai model photography saya, mungkin karena sifat predatornya, seperti halnya kutuk di tambak adalah predator yang saya sukai ketika mereka menyambar umpan yang saya mainkan. Selain itu juga karena raut muka dan ekspresi wajah capung yang bisa berubah-ubah, itu tampak sangat lucu, aneh dan menakjubkan menurut pandangan saya. 

Sama lucunya dengan Cak Pri yang suka tertawa lepas dengan bibirnya yang terbuka lebar, atau Cik Poo yang suka bicara ceplas-ceplos, tertawa terpingkal-pingkal hingga perutnya ikut naik turun dan harus dia pegangi saat tertawa.

Begitu ingat mereka berdua, tak sadar pikiranpun melayang-layang ke tokoh-tokoh Mancing Kutuk Gabus yang lain, Pakipunk, Aries Kontraktor, Dayat Kutuk, dan tokoh-tokoh lainnya, yang sudah lama absen dari trip,” apakah mereka sudah mendapat khabar tentang lomba  ? “ tanya saya dalam hati.

Tak sabar rasanya untuk segera bertemu dengan mereka semua itu pada saat lomba nanti, sambil beramah-tamah dan bernostalgia, sambil bersenda-gurau dan saling nggedabrus.

Memang benar, semua pemancing itu rata-rata suka nggedabrus, itu termasuk salah satu stereotip pemancing, terutama pemancing kutuk di Mancing Kutuk Gabus. Negatif kah ?

“ Uoooohhh.. tidak, biasanya orang yang nggedabrus itu,….belater….alias ramah dan mudah akrab. “ kata Cak Dikin.

Salam strike ……..mantaaaaab !

Oleh :
Admin. Mancing Kutuk Gabus
 









Rabu, 28 Mei 2014

Kembali lagi ke Prasung - " Harinya Christian "

Kembali lagi ke Prasung
" Harinya Christian "


Christian penasaran dengan cerita rekan-rekan tentang tambak Prasung, lebih dari 25 kg kutuk berhasil kami naikkan setiap kali kita trip di sana. Trip pertama kami empat orang menaikkan lebih dari 25 kg, dan trip yang ke dua kemarin, kami 5 orang menaikkan kurang lebih sama dengan trip yang pertama.

“ Nggak ke Prasung lagi ta, sekarang ? “, katanya pagi itu di pos Sekawan Anggun sebelum berangkat mancing.
“ Ya sudah lembut, kena segitu banyaknya, tinggal sisa-sisa Christ ! “, Cak Dikin menjawab Christian.
“ Ndak apa-apa, aku cuma pingin tahu tempatnya. “, desak Christian lagi.
“ Ya  wis terserah kamu, ndak ikut Cak Dikin saja ta, Cak Dikin punya tempat baru lagi yang joss katanya ? “, bujuk saya kepada Christian.
“ Ke Prasung saja Cak Har, aku juga ikut, aku juga pingin tahu lokasinya ! “, kata Cak Kliwon, yang juga penasaran dengan cerita rekan-rekan di tim Mancing Kutuk Gabus.

Akhirnya kami bertiga, saya, Christian dan Cak Kliwon pagi itu berangkat ke Prasung, sedangkan Cak Dikin dan Ryan Berkongkong tetap dengan rencana mereka semula.

Di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak di warung untuk membeli oleh-oleh buat Pak Yadi, 4 bungkus rokok,  kopi bubuk dan gula pasir. Kami sengaja tidak lewat jalan raya, tetapi mencoba jalan pintas lewat tambak Singkil.

Setibanya di lokasi, saya sengaja ngobrol dulu agak lama dengan Pak Yadi dan tidak langsung mancing, sengaja membiarkan Christian dan Cak Kliwon untuk mencari spot terlebih dahulu, saya ingin tahu apakah mereka berdua masih bisa menemukan spot bagus di tempat itu, karena ini adalah trip kami yang ke tiga di tambak tersebut.

Seperti kita ketahui bersama, salah satu hal yang membedakan antara para pemancing baru dan pemancing senior di tim Mancing Kutuk Gabus adalah dalam hal kemampuan mereka untuk mencari spot mancing, yaitu kemampuan mereka untuk mendeteksi gerakan-gerakan kutuk di dalam tambak. Semua orang di tim Mancing Kutuk Gabus bisa mancing, tetapi tidak semua pemancing bisa mencari sendiri spot yang bagus untuk mancing, hanya para senior dan beberapa junior tertentu yang punya kemampuan lebih untuk mendeteksi gerakan-gerakan kutuk di dalam air. Mereka berdua ini termasuk pemancing lama di tim Mancing Kutuk Gabus, saya tetap yakin mereka berdua akan menemukan spot mereka sendiri-sendiri di tambak itu, meskipun ini sudah trip yang ketiga, bagi saya terutama, di tempat itu.

Lagi-lagi Christian memang luar biasa, 17 ekor kutuk, satu diantaranya monster 1,2 kg berhasil masuk ke dalam kepisnya, kurang lebih 5 kiloan kalau ditimbang.


Christian di Tambak Prasung

“ Siapa bilang cuma tinggal sisa-sisa ? “, katanya sambil tertawa bangga.


Christian dan kutuk-kutuk perolehannya di Tambak Prasung

Cak Kliwon dan saya hampir sama, menaikkan beberapa ekor, kurang lebih masing-masing 3 kiloan kalau di timbang.
“ Wah wah wah, harinya Christian rupanya, kamu mancing di sebelah mana Christian ? “, tanya Cak Kliwon.
“ Paginya di sekitaran glagah-glagah, terus matahari naik pindah nyari tempat yang teduh ke pohon-pohon bamboo itu ! “, jawab Christian.
“ Jaaagooaaan ! “, jawab Cak Kliwon sambil tertawa.

Oleh:

Admin. Mancing Kutuk Gabus

Jumat, 23 Mei 2014

Kembali ke Prasung - Trip keberuntungan

Kembali ke Prasung
 Trip keberuntungan


Tambak di daerah Prasung - Sidoarjo.


Pagi masih terlalu gelap ketika kami berempat tiba di Prasung, Ryan Berkongkong yang sudah tidak sabar ingin segera masuk ke lokasi tambak, terus saja di depan dan jauh meninggalkan kami di belakang, untung saja berhenti sejenak sebelum menyeberang jembatan.
“ Cepetan Cak ! “, katanya kepada kami.
“ Sabar kong, ini masih terlalu gelap, percuma, ndak bisa lihat tenggakan ! “, jawab Cak Dikin.
“ Yang penting nyampek dulu, nanti kita bisa leyeh-leyeh di sana, ayo ! “, ajak Ryan berkongkong.
“ Ayo beli kopi dulu ke warung itu, sambil nunggu agak terang sedikit, baru kita masuk ! “ jawab Cak Dikin lagi.

Sepakat, lalu kami ke warung di sekitar itu, hanya satu warung itu saja yang buka pagi itu. Kami pesan kopi dibungkus 4 bh, lalu juga beberapa macam goreng-gorengan untuk bekal di tambak. Beberapa saat kemudian ada seorang lelaki tua berhenti juga di warung itu untuk membeli goreng-gorengan, rupanya untuk bekal juga ke tambak.
“ Mau mancing ke mana kok pagi-pagi sekali sudah berangkat ? “, tanya beliau kepada kami.
“ Masih belum tahu Pak, ini masih mau nyari lokasi. Barangkali Bapak pernah tahu, tambak mana ya Pak, yang banyak kutuknya ? “, jawab saya sekaligus tanya.
 “ Lho sampeyan ini mau mancing kutuk toh, pakai umpan apa ? “, tanya beliau lagi.
 “ Pakai percil Pak ! “, hampir serempak menjawab.
“ Ohhh, kalau gitu ikut saya, monggo mancing ke tambak saya saja ! “, ajak beliau kepada kami, mantab dan meyakinkan.

Singkat cerita akhirnya kami berempat, saya , Cak Dikin, Ryan Berkongkong, dan Ryan Kacong membatalkan rencana kami semula yang hendak trip kembali ke lokasi lama sesuai rencana kami malam sebelumnya, lalu mengikuti Pak Yadi (bapak tua tersebut) ke tambaknya.

Tambak-tambak di daerah Prasung memang luar biasa, hampir semua tambak banyak sekali kutuknya. Di tengah-tengah perjalanan menuju ke tambaknya Pak Yadi saja, berkali-kali kami digiurkan oleh bunyi tenggakan di sana-sini, dan berkali-kali pula kami memaksa Ryan Kacong untuk terus saja jalan dan jangan tergiur oleh tenggakan, supaya kita bisa segera sampai ke lokasi yang kita tuju.


Matahari terbit, di potret dari belakang gubug Pak Yadi


“ Wis, monggo sampeyan mancing, silahkan cari sendiri, habis-habiskan kutuknya, malah senang saya ! “, kata Pak Yadi setibanya di lokasi.

Tanpa membuang waktu kami segera berpencar mencari spot sendiri-sendiri, saya menaruh pantat di tukuan belakang gubug menghadap ke utara, mencoba eksplorasi di sekitar kolong-kolong tambak. Cak Dikin seperti biasa langsung lenyap entah ke mana, siangnya kami baru tahu bahwa dia menemukan spot di sekitar pohon-pohon bambu, menghadap ke barat. Ryan berkongkong mengikuti jejak Cak Dikin, tetapi berhenti di tempat yang ditanami sayur oleh Pak Yadi, casting di sekitar gelagah-gelagah (rumput-rumput tinggi yang tumbuh di tengah tambak). Ryan Kacong pertama casting berhadap-hadapan dengan saya, tetapi berikutnya berkali-kali pindah ke lokasi lain, mengikuti tenggakan-tenggakan.

Hasilnya luar biasa, semuanya dapat omset yang hampir sama banyaknya, tak ada satupun pemancing yang galau saat itu.

“ Muantab hari ini ya, saya lempar ke mana saja nggondhol ! “, kata Ryan Kacong.
“ Uohh muantab, sayang sekali saya banyak yang gagal Cak, saya malah banyak yang gagal dari pada yang kena. “, kata Ryan Berkongkong.



Ryan Berkongkong memperlihatkan kutuk-kutuknya

Cak Harijanto dan kutuk-kutuknya

“ Coba kalau kita tadi tidak mampir dulu ke warung, bablas terus ngikuti kamu ? “, kata Cak Dikin kepada Ryan Berkongkong.
“ Besok ke sini lagi ta ? “, ajak Ryan.
“ Jangan besok lah, sungkan sama Pak Yadi, masak tiap hari, Minggu saja kita ke sini lagi. “, saran saya.
“ Ya wis, Minggu ya ? “.
“ Okey….. ha…ha..ha ! “, kami semua tertawa senang.

Oleh:
Admin. Mancing Kutuk Gabus.


Kamis, 21 November 2013

Hujan datang lagi

Hujan datang lagi
Hujan

Hujan, seperti tamu agung yang kedatangannya dinanti-nantikan dengan penuh harap oleh semua orang pada musim kemarau. Dan untuk menyambut tamu agung yang satu ini, semua orang mempersiapkan segala sesuatu, supaya tidak mengecewakan yang ditunggu-tunggu, ada yang beli jas hujan, ada yang mulai benah-benah atap rumah, memperbaiki yang bocor, membersihkan gorong-gorong, memperbaiki saluran air lainnya, meninggikan lantai, tanah, dan berbagai macam persiapan yang lain.

Anak-anak pun demikian, begitu melihat langit mendung tiba, mereka segera kumpul di tengah lapangan sambil membawa bola dan mainan yang lain, bersama-sama menanti datangnya hujan, sambil berteriak berulang-kali menyanyikan lagu hujan, “ cempe cempe….udano sing deres….nek deres tak upahi dudoh tape….nek kurang me’o dhewe ! “.

Kompak dan serempak, seperti bunyi-bunyian kodok di tengah sawah, theot teblung memanggil hujan, kadang berhasil, kadang tidak. Kalau berhasil, hujan deras datang, mereka langsung berlari-lari dan melompat-lompat kegirangan, tertawa-tawa bersama, mereka semuanya.

Namun saat tamu agung ini benar-benar datang, lalu keenakan dan kerasan, karena disambut dengan begitu hangat dan penuh harap, akhirnya seperti tidak punya rasa sungkan, tiap hari datang. Kalau sudah begitu orang-orang sudah merasa biasa, tak lagi mengharapkannya, justru merasa terganggu olehnya, sebel dan risih juga.  Akhirnya hujan pun tersinggung, dan marah, banjirpun terjadi di mana-mana, jadilah apa yang namanya “bencana”. Saat itulah penyesalan muncul, orang-orang pun  terkenang lagi sama pacar yang lama, panas / kemarau.

Begitulah yang terjadi selama bertahun-tahun dan berabad-abad, sejak jaman nenek-moyang. Musim kemarau minta hujan, tapi kalau sudah musim hujan minta kemarau, artinya cenderung menyia-nyiakan yang sedang ada, gampang bosan, dan selalu mengharapkan yang lain. “ Umat ini memang cenderung tidak setia, hatinya sarat dengan perselingkuhan !“, kata Ki Gendeng Kampiran.


Hujan bagi tokoh-tokoh Mancing Kutuk Gabus

Hujan kini sudah mulai datang di Sidoarjo, seperti yang diharapkan, hari-hari mendung senantiasa menggelayut di atas langit. Tak tahu dengan pasti, kapan mereka jatuh, mau beraktifitas ataupun pergi ke mana-mana jadi was-was, padahal sebelumnya dirindukan dan dinanti-nantikan.

“Eeeh..atap bocor saja belum sempat memperbaiki, kok ya sudah mulai hujan.”, keluh Cak Dikin.

“Nggihh Cak Kin…saya saja janji ngantar Emak pulang ke Nggelathik juga belum sempat-sempat gini kok, mendung terus, takut kehujanan di jalan “, keluh Cak Sambun juga.

“ Iya, mau ngecat teralis kok ya mendung begini, nanti baru dimulai tau-tau hujan. “, sambung Gus Salam.

“ Sama ! Saya ya gitu kok, ngarang lagu kurang satu bait saja, ehh hurufnya jatuh kececer di Mojokerto”, timpal Pakde Sengat.

“ Huaa….haa…ha ! “, semua orang tertawa.

Yang tidak kenal mereka tentu percaya begitu saja, ketika mereka mengeluhkan dan mempersoalkan masalah mendung dan hujan, tapi bagi kami, sahabat karib mereka di dunia per-kutuk-an, itu semua hanyalah abang-abang lambe ( gincu untuk memerahkan bibir ), daripada tidak ada yang dibicarakan.

Saya dengar sendiri kemarin malam dari Cak Dikin, saat mau berangkat hunting percil (cari anak kodok) bersama di sawah, di desa Sidodadi, demikian, “ Waduh Oooom, Tambak kasus katanya mau disat, kemarin kena lagi sama saya 2 ekor monster, yang satu 1,3 kg, satunya lagi hampir 2 kg, orang-orang perumahan banyak yang ngelihat, saat saya otot-ototan, yang satu akhirnya harus tak ceburi, daripada lepas. Moga-moga saja hujan terus to, biar nggak bisa ngesat dulu, masih banyak yang belum kena soalnya. Rencana sampeyan besok mau tak ajak ke sana. “. 

Kalau Cak Sambun malah tadi pagi ngomongnya, saat trip bersama dengan saya di Tambak Gethuk, saya tidak jadi ikut Cak Dikin di Tambak kasus, soalnya paginya ternyata memang benar mulai disat, yaitu yang bagian barat, dekat jalan raya. Di Tambak Gethuk, pagi-pagi sekali tenggakan dan gondholannya luar biasa, tapi ketika matahari muncul langsung lesu dan senyap, terus Cak Sambun berkata demikian, “ Siang dikit  kok langsung sepi ya Om, airnya terlalu bening mungkin, jadi siang dikit mereka sembunyi. Mudah-mudahan nanti ada hujan deras, besok coba kita hajar lagi, siapa tahu lebih omset “.

Kira-kira, mungkinkah tokoh-tokoh Mancing Kutuk Gabus mengeluhkan datangnya hujan, mempersoalkan mendung dan hujan ? Bukankah tentang mendung dan hujan, mereka berkata, “Cuaca benar-benar mendukung !“.

Saya lebih percaya kalau mereka semuanya ini, termasuk saya juga tentunya, sekarang ini sedang mengatur strategi dan membuat persiapan, baik itu untuk diri sendiri, maupun kelompoknya masing-masing, tempat-tempat mana yang sebaiknya digarap lebih dulu untuk trip di awal-awal musim hujan.

Saya yakin semua tokoh punya incaran masing-masing, yaitu spot-spot yang sebenarnya bagus, tetapi sulit dikerjakan pada saat musim kemarau, entah mungkin karena airnya cenderung asin, atau karena kutuk-kutuknya terlalu jauh di tengah-tengah tambak sehingga tak terjangkau lemparan, tambaknya sedang ngepe ganggang (airnya terlalu dangkal dan ganggangnya rapat), airnya banger terus, dan lain-lain.

Biasanya setelah ada hujan deras, dua atau tiga kali hujan deraslah kira-kira, kondisi air di tambak mulai berubah, dan perubahannya ini seringkali menguntungkan tokoh-tokoh pemburu kutuk, di tim Mancing Kutuk Gabus. Ini kalau kita pelajari dari yang sudah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Itulah sebabnya mengapa tokoh-tokoh yang absen dari trip sekian lama, biasanya akan muncul lagi pada awal musim hujan, seperti sekarang ini. Sebentar lagi acara Mancing Kutuk Gabus akan semarak lagi, pada musim hujan. Apalagi didukung dengan cerita tentang mulai bergeliatnya tokoh-tokoh galau, yang selama ini tetap trip walaupun galau.



Cipto ( penyebut pertama istilah " Pemancing Galau ") - Strike !

Cak Martin Bogank misalnya, mulai geliat beberapa hari yang lalu di selatan Tambak Kali Wakul, 6 ekor beratnya 5,7 kg. Berarti monsternya lebih dari 4 ekor, tentunya. Berita ini diamini oleh Cak Surip, juragan kutuk di desa Gebang.

Cak Budi, naik monster 1,5 kg di tempat yang sama, saya dan Cik Poo saksinya, karena kami trip bertiga waktu itu, saya, Cik Poo, dan Cak Budi.

Saya sendiri juga mulai geliat dari keadaan galau yang panjang, tiga hari yang lalu naik 1,3 kg di tempat yang sama dengan Cak Martin dan Cak Budi tadi, Cak Martin dan Cak Kliwon saksinya, karena kami memang trip bertiga, saya, Cak Martin, dan Cak Kliwon.

Cak Dikin, seperti yang diceritakannya pada saat hunting percil di Sidodadi, naik dua ekor monster, di Tambak kasus, desa Gebang. Ini pun diamini oleh Cak Surip, juga Cak Gito, yang membantu jaga di tambak itu.

Data-data ini tentu akan menarik tokoh-tokoh gantung stick, untuk mulai bergabung lagi.

Kenang-kenangan tahun lalu.

Saya masih ingat, awal bulan Oktober tahun lalu, saat itu hujan sudah mulai turun di Sidoarjo, lebih awal datangnya daripada tahun ini. Saat itu, saya trip bersama Cak Dikin, Christian, Anwar Kakak, Cak Pri, Klunthing, dan Cik Poo, di tambak Rangkah Lor, tambak yang dijaga Cak Sai’in, saya berhasil mendaratkan seekor monster 2,15 kg, saya harus nyebur ke tambak untuk menjemputnya naik. Dan akhirnya itu menjadi data monster terbesar saya di tahun 2012.

Seperti orang-orang pada umumnya, ingin mengulang kembali sukses yang manis dan membanggakan tentunya, saya sudah berangan-angan untuk kembali trip ke sana, di awal musim hujan seperti sekarang ini. Biarpun bulan dan tahun-nya berbeda, barangkali hasilnya nanti bisa sama, bahkan lebih, siapa tahu, ya kan ?


Oleh :
Admin. Mancing Kutuk Gabus

Kamis, 12 September 2013

Lomba Mancing Kutuk - Mencari Lokasi



Lomba Mancing Kutuk


Ada beberapa hal yang menarik untuk diceritakan di dalam blog ini mengenai  hal2 seputar Lomba, yaitu tentang bagaimana Panitia mencari lokasi untuk Lomba, termasuk obrolan2 segarnya para pemancing kutuk pada saat rapat pra Lomba, pada saat nongkrong memprediksi  juara, pada saat lomba itu sendiri, dan lain2.
Sepengetahuan kami, Lomba Mancing Kutuk seperti yang satu ini belum pernah diadakan di Sidoarjo, mungkin bahkan yang pertama kali di Indonesia. Jadi kalau yang namanya mengawali itu, tentu saja akan mengalami berbagai hambatan dan tantangan2 yang cukup rumit, mengingat juga keterbatasan Panitia sendiri dalam berbagai hal yang berkaitan dengan Lomba. Kami semua ini pemancing, bukan orang2 yang sudah terbiasa mengadakan lomba. Selain itu juga karena kesibukan kami sehari2, tentu waktu kami akan sangat terbatas untuk itu semua, namun kalau yang namanya hoby dan “gendeng mancing”, semuanya itu tetap terus diupayakan sedemikian rupa hingga jadi.  

Mencari lokasi untuk Lomba
Kita semua tahu bahwa medan perang sehari2 tim Mancing Kutuk Gabus adalah tambak2 milik para Pengusaha Tambak di seputar wilayah  Sidoarjo, dan itu semua gratis tanpa ada biaya, tidak seperti halnya kalau mancing di kolam2 pancing. Jadi kalau kutuk itu hamanya tambak, kita semua ini adalah hama dari hamanya tambak. Oleh karenanya tentu saja pengelola / penjaga tambak mungkin tidak akan mengijinkan atau paling tidak ya keberatan, kalau terlalu  banyak personil mancing yang kita bawa ke satu lokasi tertentu. Namun sebelum itu terjadi, biasanya kita mawas diri, dengan cara berpencar dalam kelompok2 kecil  mencari tempat yang lain, supaya tidak nggerombol di satu tempat, sehingga mengganggu tambak tersebut.
Dengan cara ini kita semua awet mancing terus sampai sekarang belum pernah ada masalah, kalau toh ada masalah ya kita biasa menghindar dan bisa menyelesaikan. “ Ngalah wae mas, sing penting sesuk isuk oleh popping maneh...”, kata Cak Har.

Nah, inilah yang menjadi kendala utama Lomba, dengan jumlah pemancing yang sudah segitu banyak, terus bagaimana bisa mewujudkan Lomba, “ di tambak nenek-moyangnya siapa “, begitu tanya Cak Dikin pada saat rapat di warungnya Cak Budi Degan (Alm).

Karena begitu sulitnya mencari lokasi yang pas dan layak untuk Lomba, Abah Eric sempat mengusulkan untuk membagi lokasi di 3 tempat, kelompok pertama di Tambak Prapat misalnya, kelompok kedua di Tambak Pramuka, yang ketiga di tempat lain misalnya. Lalu tepat jam 9 pagi, semua peserta harus sudah kumpul di Pos Panitia, untuk menyerahkan hasil pancingan pagi itu untuk ditimbang Panitia, lalu ditentukan pemenangnya.

Tetapi kemudian diberi masukan  oleh rekan2 lain, “masak lomba lari, satu di alun2, yang lain di GOR, terus yang lain lagi di Tulangan Bah...?“, ada yang tanya demikian.

“ Lagian nanti akan muncul kecurangan2, seperti bawa ikan dulu dari rumah, atau beli ikannya orang nyengget, atau mungkin ada yang mampir dulu di Cak Surip beli ikan sing guuueedhe. Yang bisa mengawasi siapa, terus perlu berapa orang Panitia, bagaimana mekanismenya . “ kata Sambun.

“ Begini saja Bah, bagaimana kalau dibuat ada biaya pendaftaran, nanti uangnya kita serahkan ke pengelolanya, kan lumayan, biar penjaganya juga tidak keberatan kalau kita ke sana dengan orang yang segitu banyak, toh kita tidak mancing ikan yang dipelihara, barangkali ada tambak yang bersedia, dengan begitu kita bisa ngumpul di satu tempat, hanya satu hari itu saja, paling2 tiga atau empat jam, mudah2an ndak keberatan. “ usul Cak Har. Usul demikian, karena memang semula rencananya Lomba itu disponsori sendiri oleh Abah Eric dan tidak dipungut biaya pendaftaran / gratis , “ iya... qiqahane Doyok “, kata Cak Dikin. 

Kemudian Teguh, seorang anggota security Sekawan Anggun, yang juga pemancing kutuk mengusulkan, “ yok opo nek di tambaknya Cacak – ku Bah, engko tak warahe, soale Cacak nyewa sendiri ndak ikut juragan,.... uuuooooo...kutuk’e...sak kentol2... tas iki disetrumi teko pinggiran...tet tet tet... oleh sak kentol2 “.  “Huuuaaa....ha...ha.....!”, semua tertawa.

“ Iyo wis.. warahen, terus nguwenehi piro ( bayar berapa ) ha...haa.? “, jawab Abah Eric semangat dan masih ikut terpingkal2.

“ Iyo.. nek sak uwong limang ewu yok opo Bah... mosok keberatan ? “ tanya lagi Teguh.

Akhirnya malam itu disepakati biaya pendaftaran Rp.5.000,- /orang.

Singkat cerita, besoknya Panitia, antara lain Habid, Jempol, Doyok, Solikan Prasung, dan Pak Solikin segera meluncur ke lokasi tersebut untuk survey sekaligus koordinasi dengan Cacak-ne Teguh, termasuk kulo-nuwon dengan tambak2 sekitar lokasi itu, terutama masalah konvoi kendaraan yang akan terjadi nanti  di pagi2 gelap pada saat Lomba, dan lain2, yang mungkin bisa mengganggu tambak2 lain yang dilewati para peserta Lomba.

Tambak Seloroh - Kd. Peluk - Sidoarjo
Lokasi Lomba sudah beres teratasi, dan ditetapkan di tambaknya Cacak-ne Teguh, tepatnya di Tambak Seloroh di daerah Kedung Peluk – Sidoarjo.

- bersambung -

Oleh :
Admin. Mancing Kutuk Gabus