Sabtu, 26 Oktober 2013

Ikan kutuk sumber Albumin

Ikan Kutuk sumber protein tinggi (albumin)


Kuliner dari Ikan Kutuk : Panggang Kutuk kuah santan

Selain dapat diolah menjadi berbagai macam masakan yang lezat, dibakar, digoreng, diasinkan, diabon,dan berbagai macam masakan berkuah yang maknyus bagi yang suka, yang paling istimewa dari daging ikan kutuk adalah kandungan proteinnya yang tinggi (albumin).

Berbagai sumber menyebutkan bahwa albumin adalah zat penting yang ada di dalam tubuh manusia, yang diproduksi secara alami oleh hati (hepar), berguna untuk proses regenerasi sel dan membantu proses metabolisme di dalam tubuh.

Saat tubuh terserang penyakit, pilek, batuk, infeksi atau luka, baik itu luka dalam maupun luka luar, maka otomatis tubuh membutuhkan zat ini untuk proses perbaikan dan penyembuhan. Kalau sakitnya lebih gawat, diabetes, hepatitis, stroke, lupus, kanker, aids, dll, maka lebih banyak lagi albumin di dalam tubuh yang dipakai untuk perang. Oleh karenanya pada kondisi tertentu, tubuh kita jadi kekurangan albumin (defisiensi albumin). Demikian pula yang terjadi bagi orang-orang yang sudah lanjut usia, beberapa organ tubuh yang penting sudah tidak bisa bekerja secara normal, proses recovery / regenerasi sel menjadi semakin lambat sehingga terjadi penurunan stamina dan daya tahan tubuh, akhirnya mudah terserang berbagai macam penyakit. Badan tiba-tiba loyo, kurang nafsu makan, kaki atau bagian tubuh yang lain tiba-tiba bengkak dan kesemutan, susah tidur atau sebaliknya tidur melulu, muka kelihatan pucat, dan macam-macam gangguan lainnya.

Tindakan medis, biasanya memberikan albumin dari luar tubuh dengan cara injeksi atau infus albumin ke dalam tubuh pasien, untuk menutupi kekurangan albumin itu tadi, sekaligus meningkatkan kesegaran dan daya tahan tubuh pasien, agar bisa segera lekas sembuh. Semua orang tahu, biayanya masih sangat mahal untuk mayoritas kita, namun bagi sebagian orang bukan masalah, mengingat “ sehat itu lebih berharga daripada uang “.

Solusi lain(alternative) :
Bagi yang merasa keberatan dengan biaya suntikan albumin, jangan khawatir, karena Tim Mancing Kutuk Gabus setiap hari dapat ikan kutuk, segar-segar, sehat-sehat (karena hanya kutuk sehat yang rakus makan umpan saat dicasting), lucu-lucu dan hidup-hidup.



Minyak Ikan Kutuk / Albumin dari Ikan Kutuk




Dibuat dengan cara sederhana, dari ikan kutuk segar (hasil pancingan Tim Mancing Kutuk Gabus), dengan proses alami tanpa bahan pengawet.

KHASIAT & KEGUNAAN :
- Sebagai alternative untuk menggantikan injeksi albumin pada pasien kekurangan albumin.
- Meningkatkan kadar albumin dalam darah sehingga meningkatkan stamina / daya tahan tubuh.
- Membantu proses regenerasi sel dan metabolisme makanan di dalam tubuh.
- Mempercepat penyembuhan luka pasca operasi, persalinan, luka bakar, luka dalam dan luar   lainnya.
- Menurunkan kadar gula bagi penderita diabetes.
- Meningkatkan stamina dan membantu penyembuhan pada pasien penderita: hepatitis, thypus, TBC,   Stroke, Diabetes, Autis, Lupus, Kanker, HIV, dan keadaan buruk akibat penyakit lainnya.
- Menghilangkan bengkak-bengkak (oedem).
- Sebagai azupan gizi bagi semua orang, terutama Balita, Manula dan Ibu Hamil.

Harga = Rp. 35.000,- / Cap (isi +/- 75 cc )
Pemesanan : Ny. Tutik – Telp. 0856-4866-3893
                         Sidoarjo.

Catatan : Maaf hanya melayani wilayah Sidoarjo, Surabaya dan sekitarnya.









Oleh :

Sabtu, 19 Oktober 2013

Seandainya

Berandai-andai 




Menurut Cak Sul, berandai-andai adalah salah satu kemampuan yang dimiliki oleh manusia untuk mengkreasikan daya pikirnya, sebagai anugerah Tuhan yang paling istimewa, dibanding dengan makhluk bumi lainnya. 

Berandai-andai dipakai sebagai alat untuk menciptakan sesuatu, untuk menyelesaikan sesuatu, untuk merencanakan sesuatu, untuk menghasilkan ide-ide brillian, untuk menghibur diri, untuk menutupi rasa minder, malu dan sebagainya, untuk memuaskan batin dan bermacam-macam kreasi daya pikir lainnya. 

Ketika berandai-andai orang bisa tersenyum dan tertawa, sebaliknya bisa juga sedih lalu ketakutan sendiri. Konon ada orang yang berandai-andai lalu tiba-tiba semaput. Pingsan gara-gara membayangkan anak perempuannya kerja di perantauan. “ Ini kisah nyata !”, kata Cak Sul.

Kadangkala setelah berandai-andai, kita jadi makin optimis yakin, kemudian muncul semangat baru yang membara di hati kita. Namun sebaliknya tak jarang, setelah berandai-andai kita jadi makin pesimis, kecut hati dan berkepanjangan, berikutnya masuk UGD. “ Ini serius, dan kisah nyata”, kata Cak Sul lagi.

Kadang setelah berandai-andai, membayangkan sesuatu yang belum tentu ada, atau belum tentu terjadi, para isteri menjadi makin sayang sama suami. Tetapi adapula sebaliknya, justru setelah berandai-andai, tanpa sebab yang jelas, jadi muncul benci sama suami, lalu marah-marah sendiri, bikin gara-gara, berikutnya anak-anak jadi sasaran pelampiasan. Lagi-lagi,” ini fakta, dan kisah nyata ”, kata Cak Sul.

Adalagi yang karena saking seringnya nonton sinetron, lalu terobsesi dengan tokoh yang diperankan sang Artis, berikutnya berandai-andai, lalu sehari-hari berlagak menjadi seperti, “ haa...haaa..ha! “, tawa Cak Sul.

Sambil terus mendengarkan Cak Sul, saya pun jadi ngelamun dan ikutan berandai-andai, pertama-tama tentang masa depan saya, isteri saya, lalu anak-anak saya tentunya. Saya membayangkan bagaimana hidup ini, kalau nanti saya sudah tua, kalau tiba-tiba ajal datang menjemput, sedangkan anak-anak saya masih kecil dan butuh biaya. Benar apa kata Cak Sul, tiba-tiba ada kesedihan dan rasa takut, muncul di hati saya. Kesedihan dan ketakutan dari diri sendiri, yang muncul karena pikiran saya sendiri, hanya karena membayangkan sesuatu yang belum terjadi. Lalu saya teringat akan Tuhan, biarlah terjadi apa kata Tuhan, semuanya saya pasrahkan kepada Tuhan. Plass, rasa sedih itu tiba-tiba hilang, hati terasa lega kembali, saya bersyukur, ajaiblah Tuhan.

Cak Sul terus bercerita, dia pikir saya diam mendengarkan, padahal pikiran saya melayang lagi, dan berandai-andai terus, memikirkan tentang apa yang belum terjadi, memikirkan tentang seandainya ini, seandainya itu, lalu seandainya ini dan itu, seandainya, seandainya, dan seandainya. Lagi-lagi benar memang apa kata Cak Sul, hati ini seperti saya kocak sendiri, kadang muncul rasa senang, kadang terasa geli sendiri, kadang susah sendiri, kadang bisa ngeri memikirkannya, lalu saya segera sadar saat memikirkan Cak Sul, memikirkan seandainya Cak Sul berbuat demikian kepada saya, pikiran saya tiba-tiba ingin marah kepada Cak Sul. Untunglah Cak Sul menepuk bahu saya, kami berdua saling pandang, Cak Sul baru tahu kalau saya sebenarnya lagi ngelamun, padahal sejak tadi dia terus bercerita, dan saya benar-benar sudah tidak bisa mengikuti apa yang dia ceritakan. Ternyata memang segala rasa itu, senang, bahagia, sedih dan susah, itu hanyalah hasil rekayasa pikiran saya belaka. 

Tak terasa sudah setengah jam saya nongkrong berdua dengan Cak Sul di Pos Sekawan Anggun, Posnya Mancing Kutuk Gabus, Cak Sul yang terus bercerita, dan saya mendengarkannya sambil berkali-kali ngelamun. Berikutnya saya membayangkan tentang hal-hal yang sudah lampau, tentang masa kecil saya, tentang teman-teman saya waktu SMA, lalu waktu SMP, SD, dan terus melayang sampai ke zaman-zaman dahulu kala. Lalu melayang lagi tentang para filosof-filofof yang hidup di zaman dahulu, tentang para penemu-penemu, tentang roket, tentang computer, tentang klonning, dan terus mblarah ke mana-mana. Akhirnya saya berani menyimpulkan, seandainya dari dulu sampai sekarang tidak ada orang yang mau dan senang berandai-andai membayangkan, tentunya sampai saat ini kita akan terus hidup secara purba, tanpa listrik, tanpa TV, mungkin juga tanpa sikat gigi dan tanpa odol. Luar biasa, ternyata berandai-andai banyak gunanya. Lalu saya menoleh ke Cak Sul lagi, kami berdua saling pandang, “ ngelamun lagi ya....ha..haa..ha ?”, tanya Cak Sul kepada saya.

Itulah hebatnya otak kita, begitu jauh, dalam dan hampir-hampir tak terduga isinya, seperti kata Cak Sul, “ Karunia dari Tuhan, yang luar biasa “. Tapi kalau ngomong yang begini terus, lama-lama ngantuk dan bosan juga, untungnya sejurus kemudian peserta nongkrongnya tambah, Cak Dikin datang begabung, sesaat kemudian Cak Martin. “ Wis..wis Cak Sul.., cerita kutuk saja lo Cak Sul, cerita gituan itu berat, malah bikin ngantuk,… gimana..kopinya tambah ta? “, sela Cak Martin. 

Berikutnya alur cerita di Pos Mancing Kutuk Gabus itu bergulir ke masalah kutuk, seperti biasa Cak Martin suka mengulang-ulang kembali cerita lama, cerita tentang sepak-terjangnya di masa lampau, di rawa-rawa, di tambak-tambak, di sungai-sungai, di laut, di mana-mana. Cerita tentang monster-monster yang pernah ditakhlukannya, tentang berapa banyak reel pancing yang sudah dihancurkannya, tentang merk-merk senar yang pernah dia pakai, dan sebagainya. Semuanya jadi bergairah mendengarkan, termasuk saya juga, padahal sudah sejak tadi saya single mendengarkan Cak Sul. Saya pikir ini perlu tambah kopi lagi buat doping, lalu saya minta ke Pak Sambun.

” Kopinya masih ada Pak Mbun ? ”, pinta saya ke Pak Sambun, karena memang saat itu giliran jaganya Pak Mbun. 

Malam mulai terasa dingin, semilir angin mulai bikin tulang-tulang saya terasa ngilu, tak terhitung berapa kali saya bersin-bersin, badan terasa nggereges semua, saya lagi terserang flu. Sebenarnya saya ingin pamit pulang dan segera tidur, tapi dalam hati berat meninggalkan mereka, lagian cerita tentang mancing kutuk, saya sangat suka. Apalagi kalau yang cerita itu tokoh idola saya, biar diulang-ulang berapa kalipun, saya tetap tertib dan senantiasa khidmat mendengarkan.

Cak Martin terus saja cerita, urut dan rinci seperti yang dulu-dulu itu, mulai dari Gresik, Lamongan, lalu balik ke Surabaya. Pindah lagi tentang mancing di Jakarta, terus Medan, lompat ke Papua. Berikutnya Rawa Pening, lalu Jogja, Semarang, balik lagi ke Sidoarjo, ini seperti trayeknya travel atau bus antar kota, ada nggak ya. 

Akhirnya sampailah pada cerita tentang Trip di Pulau Mandar, seberangnya Tambak Klampis. Waktu itu trip Mancing Kutuk Gabus naik perahu ke Pulau Mandar. Pesertanya Cak Martin, Cik Poo, Anwar Kakak, Ryan Kacong, Christian dan termasuk saya. Semuanya rata-rata puas dengan omzet perolehannya, meskipun masih belum sebanding dengan biaya yang dikeluarkan, kecuali Tokoh kita ini sendiri.

Saat cerita tentang Pulau Mandar itulah Cak Dikin tanya,” katanya Sampeyan di sana galau Cak ? “ 

Jawab Cak Martin,” Uoooohhh..., seandainya yang saya hajar terus dengan lemparan itu dulu kena, semua yang didapat teman-teman itu tidak ada apa-apanya, beneran, mungkin saja itu bisa jadi rekor saya tahun ini “. 

“ Huaaaa...haaa...haaaaa ! “, semua yang ada di Pos tertawa.

Lalu sambil masih terkekeh-kekeh Cak Dikin cerita, “ Seandainya yang diomong Pakde Sengat itu benar, bahwa semua tanah dekat-dekat bandara Juanda itu benar-benar miliknya, kekhh..kekhh...ha..ha..kita semua ini kaya raya....haa...ha..ha. Soalnya semuanya katanya mau dibagi-bagi dan serti-pikatnya mau dibalik nama atas kita semua masing-masing,...kekh...kkek..haa...ha.haa ! “.

“ Huaaa....haaa...haaaaa ! “, semua orang tertawa terbahak-bahak. 

Kalau sudah jadi seru begini, saya malahan tidak jadi kepingin pulang, ini yang saya cari, kumpul-kumpul sambil tertawa bebas, membuat pikiran saya senang, fresh dan terasa muda terus, lupa hutang-hutang dan tunggakan rekening yang belum saya bayar. 

Tapi lalu saya jadi berandai-andai lagi memikirkan Pak Sengat, kenapa kok dia juga berandai-andai tentang tanah di sekitar Juanda ya. Mungkin saja, dengan begitu dia bisa merasakan, rasanya jadi tuan tanah, bisa meninggalkan banyak warisan kepada kita, teman-teman nongkrongnya, lalu terhibur dan senang. Yah..maklum orang sudah tua. 

Berpikir tentang orang tua, saya jadi ingat Ayah saya (almarhum) dan Kakek saya (almarhum). Tentang Kakek saya itu, saya malah belum pernah tahu wajahnya, karena beliau sudah lama meninggal, jauh sebelum saya lahir. Aneh kan ? Saya bisa membayangkan bagaimana beliau itu, karena berkali-kali dapat cerita tentang beliau itu dari almarhum Ayah saya. Terutama cerita tentang Pohon Mangga di sebelah rumah, yang ditanam Kakek saya. 

Pohon Mangga di sebelah rumah 

Di sebelah rumah saya, di desa tentunya, ada pohon mangga, tumbuh besar sekali, tinggi sekali, dan rimbun sekali. Begitu suburnya pohon itu, sampai rumput-rumput pun tidak mau tumbuh di bawahnya, sehingga bawahnya bersih dan teduh, setiap hari jadi tempat bermain saya dan teman-teman saya semasa kecil dulu. Main kelereng, main petak umpet, main lompat tali, main ayun-ayunan, dan main apa saja sesuka kami, karena di sana benar-benar nyaman. 

Karena tinggi dan rimbunnya cabang-cabang pohon itu, bermacam-macam burung suka bertengger dan bersarang di sana. Hampir setiap saat kita bisa mendengar kicauannya. Saya masih ingat sekali, ketika Ibu saya sering menirukan kicauannya itu untuk menidurkan saya dan adik saya di waktu siang,“ cit...ciit..ciiiit......thirrrrrrrr ! “, begitu Ibu saya biasa menirukannya. 

Yang lebih istimewa, adalah ketika lagi musim, pohon itu begitu banyak buahnya, dan buahnya pun lebih manis dibanding pohon-pohon mangga lainnya, yang memang ada banyak di halaman rumah masa kecil saya. 

Di desa, hampir semua orang punya pekarangan yang luas, demikian juga hampir semua orang punya tanaman pohon mangga, tetapi tetap saja tetangga-tetangga di sana, ikut memetik dan merasakan buah dari pohon mangga yang di sebelah rumah itu. Mereka dan anak-anak mereka, karena memang hidup di desa, semuanya seperti saudara. Anehnya, pada musim mangga berakhir, hanya pohon itu saja yang masih ada buahnya, sedang yang lainnya habis oleh saya dan teman-teman saya. Mungkin karena pohon itu yang paling tinggi tumbuhnya, sedangkan yang lain jauh lebih rendah dan sedikit buahnya. 

Kata Ayah saya, itu adalah pohon kenang-kenangan dan tinggalan yang terakhir dari Kakek saya. Sepeninggal Nenek saya, Nenek memang dipanggil duluan, Kakek merasa sangat terpukul dan kesepian sekali, meskipun saat itu tinggal bersama Ayah, dan beberapa Paman dan Bibi saya. 

Waktu Kakek bersih-bersih ladang di belakang rumah, ceritanya di situ dulu juga ada pohon mangga yang sudah tua sekali pohonnya, tapi saya tidak njamani. Kakek menemukan buah mangga yang besar dan sudah ranum, tergeletak di tanah begitu saja, mungkin jatuh saat mau dimakan kelelawar. Lalu Kakek kupas dan makan buah itu, dan Kakek bilang ke Ayah saya, “ Lihatlah, buah mangga ini kayaknya istimewa, dagingnya benar-benar manis dan segar, bijinyapun keras dan besar. Biarlah biji ini saya tanam, nanti kalau mau tumbuh, besar dan berbuah, kamu semua akan tahu rasanya “. 

Singkat cerita, biji itu ditanam lalu bertunas, dan tumbuh. Kakek setiap hari duduk-duduk di situ sambil menyiram, mencabuti rumput-rumput di sekitarnya, dan terus mengikuti perkembangannya. Pembaca pasti tahu kalau kita menanam mangga dari bijinya, bayangkan betapa lama pertumbuhannya. Sedangkan usia Kakek sudah sangat lanjut waktu itu, mana mungkin beliau bisa ikut menikmati buahnya. Dan benar, beberapa tahun kemudian Kakek saya meninggal, sedangkan pohon itu baru tumbuh setinggi pagar ( kurang lebih 2 mt ). 

Yang saya bayangkan adalah, kenapa Kakek begitu yakin, lalu mau menanam, dan terus tekun menyiram dan merawat pohon itu. Apa yang ada dibenak Kakek saya waktu itu, saya tidak tahu. Setiap hari, beliau hanya menyiram, merawat, menyiram, dan merawat saja, entah kapan hasilnya, saya yakin beliau sendiri pun tidak tahu. Mungkin saja Kakek suka berandai-andai, membayangkan betapa girangnya cucu-cucunya nanti saat makan buah dari pohon mangga yang ditanamnya itu, betapa senangnya mereka nanti bersenda-gurau dan bermain-main di bawah pohon mangga yang ditanamnya itu. 

Saya sendiri juga berandai-andai, seandainya Kakek saya hanya memikirkan dirinya sendiri saja, mengingat usianya yang sudah tua, yang sudah jelas tidak akan bisa ikut menikmati buahnya,  tentu pohon mangga itu tidak pernah ada, dan kami semua tidak bisa menikmatinya. 

Lagi-lagi benar apa kata Cak Sul, “ Berandai-andai itu anugerah Tuhan yang istimewa ! “. 

Oleh : 
Admin. Mancing Kutuk Gabus

Kamis, 10 Oktober 2013

Berbincang dengan Mbah Sawiyo



Berbincang dengan Mbah Sawiyo

“ Zaman saya muda dulu, kalau ada wanita yang mau dinikahi orang mancing, itu sudah jelas sejelek2nya wanita, atau se-apes2nya wanita ”, cerita Mbah Yo kepada saya dan teman2, saat istirahat di gubuknya Mbah Yo. Kontan semua orang yang ada di situ tertawa ngakak, mereka baru pertama mendengar ini dari Mbah Yo.  Saya cuma tersenyum, saya sudah pernah mendengar kalimat yang serupa, 5 tahun yang lalu, dari Abah Manap, pemilik kolam pancing di Banjar Panji, Sidoarjo.

“ Kok bisa Mbah ? “, tanya Tofa penasaran, karena memang cuma dia di antara orang2 yang ada di situ, yang masih bujangan.  Cak Ali dan Pak Su’eb yang dari tadi sibuk dadak ganggang, akhirnya mentas dan ikut nimbrung, duduk di tanah begitu saja, di depan Mbah Yo, keduanya masih basah kuyub oleh air tambak.

Merasa banyak yang tertarik, Mbah Yo melanjutkan ceritanya, “ Iya, masalahnya kalau zaman dulu itu, orang mancing untuk mencari nafkah, untuk makan, bukan kayak sekarang ini. Orang tua zaman dulu, lebih senang kalau anak gadisnya dirabi pegawai, orang kantoran, tentara, pulisi (maksudnya polisi). Masa depannya jelas, punya pensiun, sudah ndak akan ngerepoti orang tua lagi. Tapi sekarang ini beda, lha wong orang mancing sekarang ini semuanya pada punya hape….uhuk…uhuk…uhuk ! “. Berkata panjang lebar Mbah Yo langsung batuk.

“ Haa…..haaaa.haaaaa…hhaaaaaa ! “, semua orang tertawa keras2, suasana jadi meriah gara2 Mbah Yo. Teman2 yang sebenarnya dari tadi sudah pada kemas2 mau pulang, karena memang hari sudah jam 8.00 siang, kutuk2 sudah ndak nggondol, matahari sudah terasa sangat terik menyengat, akhirnya pada duduk semua, mendengarkan Mbah Yo.

Mbah Yo, adalah pemilik tambak di daerah Rangkah, usianya kira2 mendekati 70 tahun, pensiunan tentara. Orangnya sederhana, orang yang ndak kenal pasti mengira Mbah Yo itu sadis, pendiam, pemarah, sombong, sulit diajak ngomong, dan sebagainya. Karena Mbah Yo memang raut mukanya demikian, kumisnya lebat ubanan, orangnya juga jarang bicara, meskipun ketemu persis di depan kita, tersenyum pun tidak. Tetapi dia sama sekali tidak pernah keberatan, ketika kita hampir tiap hari mancing kutuk di tambaknya, “ habis2-kan…!”, katanya. Namun kalau dia sudah mau ngobrol dengan kita, barulah kita tahu Mbah Yo, orangnya peramah, mudah akrab, banyak pengalaman, wawasannya luas, suka bercanda, dan yang paling unik, dia itu cepat hafal nama2 kita, dia selalu memanggil kita dengan nama kita. Tidak seperti pemilik2 tambak lainnya, yang meskipun sering gaul akrab dan berbincang2 dengan kita, tetapi belum tentu tahu nama2 kita semuanya, paling2 satu dua orang yang dikenal mereka.

“ Ojok seneng2 mancing, wong mancing ngono nguwenehi mangan ngerah patine ! “, kata Mbah Yo lagi, dan kontan semua orang tertawa lagi. (Artinya : janganlah bersenang2 dengan mancing, sebab orang yang mancing itu, memberi makan supaya bisa merenggut nyawa). 

“ Lha terus, kalau mau cari kutuk, gimana caranya Mbah ? “, tanya teman2.

“ Cari kutuk kok mancing, sampeyan kalau hujan2 itu lho ke sini, jalan saja keliling tambak nanti kan ketemu kutuk, malah iso sak pirang2 ! “, jawab Mbah Yo.

Kenyataannya memang demikian, ketika musim hujan tiba, selesai hujan lebat dan hujan masih turun rimis2, biasanya kutuk2 lompat kedaratan. Penjaga tambak cukup berjalan saja mengelilingi tambak, untuk memungut kutuk2 yang melompat ke pinggir2 tambak itu, dan itu bisa dapat puluhan ekor, kalau ditimbang bisa dapat belasan kilo,  jauh lebih banyak daripada jumlah terbanyak yang pernah kita dapat dari mancing. 

Tapi jelas bukan ini yang kita cari, kita memang mancing kutuk, tetapi sensasinya- lah yang kita cari. Kita bukan senang karena dapat puluhan ekor kutuk, puluhan kali strike-nya itulah yang kita senangi, dan yang kita banggakan, yang kita nanti2kan setiap pagi, dan yang kita sering bicarakan setiap hari. Ini berbeda dengan apa yang dipikirkan Mbah Yo.

“ Wah … gak seni itu Mbah, kita ini cari seni, orang mancing kutuk itu cari seninya Mbah !”, kata Tofa lagi, memang hanya Tofa yang berani ngomong banyak sama Mbah Yo, yang lainnya agak2 sungkan.

“ Golek seni kok nok tambak, nek wong sekolahan iku golek seni yo nok museum ! “, jawab Mbah Yo, lagi2 semua orang tertawa ngakak.  

“ Iyo Mbah…lha wong sing mancing iki ra enek sing sekolah….kekkh….kkekkhh…kekkh..! “, Pak Su’eb yang dari tadi ikutan tertawa terkekeh2, ikut menimpali.

Saya jadi penasaran, tertawa terus membuat perut terasa sakit mulas, saya ingin tahu apa kira2 jawaban Mbah Yo, lalu saya tanya, “ Terus apa bedanya dengan orang nambak Mbah, bukankan panjenengan ngasih makan ikan, membesarkannya, lalu nanti juga untuk dipanen, dan disembelih ? ”.

“ Sampeyan keliru, saya memang memelihara ikan dan ngasih makan, tetapi saya tidak ikut membesarkan, dan memang terus saya  jual, lalu mereka yang nyembelih, …bukan saya “, jawab Mbah Yo santai. 

Bagi saya ini agak srekalan, saya kejar lagi, “ apa panjenengan ndak pernah mbeteti ikan to Mbah ? “.

“ Iyo nek pas pingin. “, jawabnya.

“ Itu podo mawon Mbah ! “, semua orang tertawa ngakak.

“ Sampeyan kalau mancing itu ya harus hati2, jangan mburu senang thok, terus lali, kutuk di sini itu ada yang momong,  apalagi kalau mancing di bawah pohon trembesi sana itu. “, cerita Mbah Yo lagi.

“ Emangnya ada apa Mbah di sana ? “, tanya Cak Kliwon, kali ini semuanya serius mendengarkan.

“ Kemarin itu, pagi2 sekali, hari masih gelap sehabis subuh, saya dengar sendiri dari gubuk sini, nuenggak sak buanter-buantere, “ byyuuooorrrr….! “, suaranya kayak pohon rubuh, mau tak lihat ke sana kok masih gelap, terus tak lihat saja dari sini. “ sambung Mbah Yo.

Semuanya diam serius mendengarkan Mbah Yo, kecuali Cak Pri, sambil memegang perutnya dia menahan tawa, tapi ndak kuat, lalu ngakak,” kaa….kaaa..khaaa ! “. Mbah Yo mesem2 melihat Cak Pri, jari telunjuknya yang kanan menutup mulut, telunjuk yang kiri menunjuk Cak Pri.

Akhirnya Cak Pri buka mulut cerita, kontan semua orang tertawa ngakak keras2, semua baru tahu kalau Cak Pri kemarin kecebur tambak, ketika pagi2 sekali casting sendirian dari bawah pohon trembesi. 

Setelah puas tertawa2 dengan Mbah Yo, Cak Ali dan Pak Su’eb, selanjutnya kami pamit pulang. Di jalan, teman2 masih saja terus tertawa membicarakan Mbah Yo. Terlebih lagi saya,  kejadian2 yang saya alami pagi hari tatkala mancing, kadang masih terbawa di tempat kerja siang hari, dan saya kadang tersenyum sendiri.

Oleh :
Admin. Mancing Kutuk Gabus
     

Minggu, 06 Oktober 2013

Daftar Nama Pemancing Kutuk - Pembaharuan data

Daftar Nama Pemancing Kutuk 

Tim Mancing Kutuk Gabus 


Berikut ini adalah daftar nama pemancing kutuk yang tercatat dalam buku tim Mancing Kutuk Gabus, mancing kutuk dengan teknik casting / popping menggunakan umpan percil (anak kodok) di areal tambak wilayah Sidoarjo dan sekitarnya. (input data : 06 Oktober 2013)

Kelompok Anggun
01. Harijanto ( Cak Har )   
02. Pakipunk
03. Abah Eric
04. Cik Poo
05. Christian
06. Winarto (Kang Win)
07. Ryan Kacong
08. Angger
09. Adam
10. Tony
11. Bp. Bondan
12. Gus Salam
13. Hadi Bea Cukai
14. Habid
15. Heru
16. Solikan Prasung
17. Cak Parno
18. Bp. Solikin
19. Jempol
20. Koh What
21. Anwar Kakak 
22. Sambun (Saman)
23. Yuwono
24. Eric Yunior
Kelompok Bulu
25. Klunthing (Wahyu)
26. Budi Condromowo
27. Solikan (Copet)
28. Caca
29. Hasan Banseng
30. Guk Lit
31. Erwin Bethik
32. Puyong
33. Cipto
34. Rochman
35. Toyeng
36. Kipli
37. Irwanto
38. Panji
39. Pece
40. Eddy Gondrong
41. Romli
42. Juli (Mbah Jul)
43. Basor
44. Otong
45. Nanang Sotong
Kelompok Citra Golf (Sodikin)
46. Sodikin (Cak Dikin)
47. Sakur
48. Ibnu
49. Setiono
50. Anas
51. Yusuf
Kelompok Rangkah
52. Cak Pri
53. Kliwon
54. Yudi
55. Eddy Las
56. Nono
57. Yanto PPG
58. Narso Tofa
59. Pacul
Kelompok Martin
60. Cak Martin (Cak Bogang)
61. Dayat Kutuk
62. Jono
Kelompok Cabean
63. Teguh
64. Rochman
65. Misto
66. Hamzah

Dan masih banyak lagi nama2 pemancing yang belum sempat terdata.

Oleh:
Admin. Mancing Kutuk Gabus
                              

Lomba Mancing Kutuk - Ki Gendeng Kampiran

LOMBA MANCING KUTUK

Versi : Ki Gendeng Kampiran

Peserta Lomba Mancing Kutuk

“ Saya heran Mbah, kenapa selalu kita yang jadi sasaran, kenapa selalu kita yang jadi kurban ? “, tanya Guk Lawung kepada Mbah Wo, di tengah2 rapat akbar jalmo kutuk di Tambak Seloroh.

“ Lha wong pingin kumpul2 lagi, akrab2an lagi, kangen2an lagi sama konco2 ne kok malah kita yang mau dibuat bulan2an, itu terus piyeeeee........maunya itu ? “, sambung Guk Lawung menegaskan kejengkelannya.

Malam itu memang ada pertemuan mendadak para jalmo kutuk di perairan Tambak Seloroh, persisnya di depan tukuan ( pintu air yang menghubungkan kolam satu dengan kolam yang lain, sedangkan pintu air utama tambak, yaitu tempat masuknya aliran air sungai ke dalam tambak, biasa disebut orang “ laban “ ). Rapat dadakan itu dihadiri oleh seluruh kutuk yang ada di tambak itu, mulai dari gapuran2 (bayi2 kutuk), brinjilan2 kutuk (kutuk remaja), sampai para dedengkot dan sesepuh kutuk, yang pada musim ini dipimpin oleh Mbah Wo (mbah2ane kutuk).

Rapat kali ini memang tidak seperti pertemuan2 kutuk biasanya, seperti halnya jalmo menungso, ada semacam gab2 dan dinding pemisah antara golongan kutuk yang satu dengan golongan kutuk yang lain, mereka kurang bisa srawung. Misalnya saja, kalau yang ngadakan pertemuan itu golongan kutuk ningrat, tentu golongan lain tidak akan diundang, kalau toh terpaksa mengundang, itu hanya untuk abang2 lambe alias lip service, dan nantinya tetap saja akan diintimidasi pada saat pertemuan, demikian pula sebaliknya. Ada banyak golongan kutuk di Tambak Seloroh ini, yang keberadaannya terjadi sedemikian rupa dengan sendirinya, karena bermacam2 kepentingan, perbedaan pola pikir, perbedaan falsafah dan pandangan hidup, perbedaan pekerjaan, strata ekonomi dan status sosial, perbedaan gaya hidup dan hoby, dan perbedaan2 yang lain, sehingga terbentuk gab2 dan kisi2, yang memisahkan antara kelompok kutuk yang satu dengan lainnya. Ada kutuk golongan ningrat, ada kutuk golongan putihan, kutuk abangan, kutuk jetset, golongan proletar, golongan rea-reo dan lampoar, dan golongan lainnya. Kalau berdasarkan kesamaan hoby, ada kutuk dugem, kutuk ping pong, kutuk futsal,.......kutuk gaple, ...kutuk moge, dll. 

Namun pada pertemuan kali ini semua harus bersatu rapat barisan, mengingat betapa pentingnya masalah dan materi yang dibahas, menyangkut masa depan dan kelanggengan hidup kutuk2 di tempat itu, maka semua dan segala perbedaan golongan maupun kelompok itu, kali ini harus ditiadakan. Semua kutuk harus hadir dan tidak boleh tidak, untuk mendengar dan didengar, untuk partisipasi urun rembug, dan tidak akan ada intimidasi. Semua boleh usul dan boleh ngomong, yang penting masuk akal, “ sing penting nalar tur ora nggelambyar “ kata Mbah Wo.

Semula berawal dari informasi yang didapat oleh Mbah Ran, kepala intel kutuk yang sudah menjabat bertahun2 di wilayah itu, atas laporan dari Guk No, detektif swasta yang biasa merapat di pinggiran tambak dekat gubuknya Cak Buadi (pengelola tambak), untuk sengaja nguping dan mencari informasi dari orang2 yang biasa nongkrong dan ngobrol di gubuk itu. Mangkanya kutuk2 di situ selalu tahu, kapan tambak mau dikeringkan, kapan Cak Buadi mau buat pinian (tempat persemaian bibit ikan atau udang), kapan laban dibuka untuk membiarkan air sungai masuk, atau sebaliknya ditutup, dll informasi yang sangat penting bagi kutuk2 di situ untuk tetap survive mempertahankan hidup.

“ A..aanu...mohon ijin Mbah ...aanu..gawat Mbah ...ini benar2 gawat Mbah,..orang2 katanya mau ngadakan lomba di tambak ini ! “, lapor Guk No kepada Mbah Ran tersengal2.

“ Kamu ini ngomong apa....anu2..., ngomong yang jelas gitu lho,...saya hajar kamu,...ada lomba kok gawat,...apa hubungannya ?”, jawab Mbah Ran, dengan gayanya yang khas seperti biasanya, pensiunan tentara.

“ Mohon ijin Mbah......iya..anu Mbah...gawat,...masalahnya kita yang dilombakan,..eh anu bukan...kita yang jadi sasaran! “, lapor Guk No lagi.

“ Lomba apaan tuh..kok kita yang jadi sasaran ? “, tanya Mbah Ran, masih dengan gayanya yang khas.

“ Mohon ijin Mbah, anu..tadi saya lihat dan dengar sendiri dengan jelas, anu...Mbah...ada orang gemuk2 agak hitam2 gitu lo Mbah, anuuu... dia minta tolong Cak Buadi, katanya ...anu Mbah..mau minjam tambak kita ini untuk anuuu itu lho...lomba mancing kutuk, ini kan jelas ada hubungannya dengan kita to Mbah,..kita yang mau dipancing Mbah, rame2 lagi,....aanuuu...apa itu...masak masih kurang gawat Mbah ?”, kali ini agak detail Guk No menjelaskan, biar Mbah Ran bisa nalar.

Kenyataannya memang demikian, esok hari setelah persetujuan tentang rencana untuk meminjam pakai tambaknya Cacak-ne Teguh (Cak Buadi)  sebagai lokasi lomba, yaitu sehari setelah rapat dengan Abah Eric dan tim Mancing Kutuk Gabus, Teguh langsung meluncur ke tambak itu, untuk meminta ijin sekaligus sambang ke Cak Buadi, sebab memang sudah lama Teguh tidak pernah anjang sana ke Cak Buadi , sebagai saudara yang lebih muda.

Di gubuk tempat Cak Buadi biasa santai2 sambil mesem2 senang lihat ikan2 peliharaannya kecopak2 tumbuh terik berkembang besar dan kruwel2 kayak dawet Ponorogo saking buuanyaknya, itulah, Teguh matur dan mengutarakan maksud kedatangannya. Dan singkat cerita, Cak Buadi dengan senang hati mengijinkan apa yang diminta Abah Eric dan rekan2nya di tim Mancing Kutuk Gabus, untuk memakai tambak itu sebagai lokasi Lomba, Lomba Mancing Kutuk. Selain karena hanya kutuk yang dicari dan dilombakan, apalagi kutuk itu memang hama, meskipun ada harganya kalau bisa dikumpulkan, hitung2 juga sambil menitipkan Teguh, di Sekawan Anggun, tempat Teguh bekerja. Sebab Abah Eric kan termasuk orang yang disegani di sana. “ Kasihan juga tuh Teguh, cari kerja sekarang ini susah,  apalagi golek nyambik (biawak)  malah semakin susah.”, pikirnya sebagai saudara tua.

Semuanya itu ternyata terus dipantau dan diteropong oleh Guk No - mata2 kutuk, sambil terus ceprat-cepret mengambil gambar Teguh dan Cak Buadi untuk nanti melengkapi bukti dan laporan. Setelah itu Guk No ngebal meninggalkan rumput2 di pinggiran tambak sebelah gubuk, tanpa diketahui dua orang itu tadi, lalu pergi menemui Mbah Ran – kepala inteligen kutuk, untuk memberikan laporan.

“ Lho..lho..lho..kok ...dari lahir ceprot sampai jadi mbah2ane kutuk seperti sekarang, belum pernah ada yang namanya lomba mancing kutuk di tambak ini, di tambak2 lain pun saya juga belum pernah dengar, mungkin sak Indonesia pun rasanya juga belum pernah ya....kalau orang masang plumpatan, orang nyengget, orang nyetrum, orang2 nyegog,...orang2 yang perlu makan dengan menjual kita2 itu saya sering lihat, ...lha ini kok aneh2 saja,...lloo...lomba kok mancing kutuk....okey...kalau gitu cepat woro2, pakek mikrofon, kumpulkan semua warga ! “, perintah Mbah Ran kepada Guk No.

Tanpa buang waktu, Guk No segera nyarter bemo yang pakek halo2 untuk woro2  mengumpulkan semua warga kutuk di tambak itu. Mbah Ran sendiri segera menghadap Mbah Wo - sesepuh kutuk yang paling disegani di wilayah itu, mereka lalu menghubungi tokoh2 masyarakat kutuk lainnya, seperti Mbah Man, Mbah Tris, Lik Mun, Lik Kabul, Lik Mah, Lik Di, Om Gembuk, Mak Yah,  Bik Jum, Cak Gowang, Guk Lawung, dan masih banyak lagi pini sepuh lainnya, demikian juga pemuda2 karang taruna, antara lain Cak Bathang, Dodik, Freddy, Mat Ndomble, Mbak Ut, dll untuk segera mengadakan rapat bersama dengan seluruh warga kutuk yang ada di situ.

Malam itu rapat besar digelar, semuanya berkumpul di depan tukuan, tempat yang paling luas dan airnya juga lebih dalam, permukaannya bersih tanpa tanaman. Sengaja pilih tempat ini sekaligus karena semua warga kutuk di situ sudah lama kangen dan rindu pingin lihat wajah Mbah Wo di depan mimbar, rindu dengan gaya orasi Mbah Wo yang berapi2, kocak, meledak2 penuh semangat, hampir mirip dengan gayanya Mbah Ndasem Wit ringin – motivator kutuk tambak sebelah, Tambak Bangoan. Demikianlah, semua warga kutuk di situ hadir tanpa terkecuali, bahkan ibu2 yang lagi hamil, maupun yang sedang menyusui bayi, semuanya hadir, tidak boleh tidak,” kalau ndak hadir,....aaannnuu....push up ! “, begitu ancam Guk No.

“ Saudara2 sebangsa dan setanah-air, terima kasih atas kehadiran kalian semua. Kami para sesepuh kutuk di tambak Seloroh yang kita cintai bersama ini, menangkap adanya rencana2 busuk dari pihak2 luar, yaitu dari pihak2 yang menganggap dirinya memiliki budaya dan peradaban,  pihak2 yang menyatakan diri sebagai makhluk yang berkepribadian dan berperikemanusiaan, pihak2 yang mengklaim kita buas, sadis, brutal dan kanibal. Mereka2 ini dengan dalih keakraban, dan kebersamaan untuk mereka sendiri, hendak menjadikan kita obyek permainan dan perburuan, seperti yang telah diberitahukan kepada kami oleh Mbah Ran, sesepuh dan tokoh masyarakat yang selama ini telah sangat berjasa dan berguna untuk kesejahteraan, dan keselamatan kita semua. Untuk itu, sebelum kami memutuskan apa yang hendak kita lakukan bersama2 menghadapi situasi yang selamanya tidak akan pernah menguntungkan kita semua ini, kami harapkan pendapat dan masukan2 dari semua warga yang hadir di sini, terutama dari para dedengkot dan sesepuh, yang selama ini kami anggap sebagai saudara tua, lebih dari sekedar penasehat. “ sambutan Mbah Wo mengawali rapat, biasanya memang begitu, awalnya kelihatan serius namun belakangan  mblarah.

Guk Lawung yang sedari tadi sudah ngejer2 ndak kuat nahan, saking kepinginnya ngomong, apalagi di depan sana ada Mbak Yanti yang ketap-ketip kayak kutuk timbilen, langsung angkat tangan dan bicara,” Saya heran Mbah, kenapa selalu kita yang jadi sasaran, kenapa selalu kita yang jadi korban ? “.

“ Lha wong pingin kumpul2 lagi, akrab2an lagi, kangen2an lagi sama konco2 ne kok malah kita yang mau dibuat bulan2an, itu terus piyeeeee........maunya itu ? “, sambung Guk Lawung menegaskan kejengkelannya.

Kalau mau kita cermati, kita resapi dan renungkan secara mendalam, apa yang dikatakan Guk Lawung memang benar adanya (atau paling tidak ada benarnya). Bagi kita yang  punya hoby mancing, biasa mengisi waktu luang dengan acara mancing, semuanya itu hampir tidak pernah kita pikirkan, rasa senang seringkali mengalahkan segalanya. Setiap kali kita ingin menyenangkan diri, menghibur diri, menghabiskan waktu, atau mencari pelampiasan atas segala kegalauan, selalu saja mereka yang jadi obyek sasaran, menjadi kurban.

Sering kita jumpai, bermacam2 tulisan di facebook, contohnya,” Stress ngadepin pimpinan yang plin-plan,.....besok trip aja ahhh! “.

Ada lagi, “ asyik...ujian tinggal 2 x,...habis itu uncal..coy.....”.

Atau,” Ueeedan...cuaca benar2 mendukung, tinggal siapin alat2...terus maannntaaaabb !”.

Intinya, setiap ada waktu luang hiburannya - cari kutuk, lihat cuaca mendung – uber2 kutuk, cuaca cerah – juga nyawati kutuk, terus ribut sama isteri – ngejar2 kutuk, bokek ndak ada fulus buat susu anak – kutuk lagi yang jadi pelampiasan, tidak ada sedikitpun belas kasihan sama kutuk.  Semuanya adalah untuk kesenangan kita sendiri, demi kita sendiri, dan kita tidak pernah mempertimbangkan keberatan2 dan kerugian2 pihak lain, yang penting kita bisa senang dan terpuaskan.

Karena begitu senangnya kita mancing, demikian pula begitu senangnya kita bisa berkumpul dengan orang2 yang punya kesenangan sama dengan kita, berikutnya kita utak-atik merancang acara dan program2 yang kesemuanya itu adalah demi untuk kesenangan kita semata2, tanpa mempertimbangkan keberatan2 maupun kerugian2 pihak lain, dalam hal ini Guk Lawung beserta seluruh bangsanya. Mancing kutuk yang kita lakukan untuk mengisi waktu luang, untuk hiburan dan rekreasi, menghilangkan stress dan kepenatan setelah bekerja atau berpikir terlalu keras, sebagai pelampiasan atas masalah dan kegalauan pikiran, atau dengan berbagai macam alasan lainnya, semuanya itu intinya adalah untuk kesenangan, kepuasan, maupun kesembuhan diri kita sendiri, bahkan sekalipun dengan alasan untuk nafkah mencari makan, bukankah tetap saja  kutuk2 itu yang dirugikan dan tentu saja menjadi kurban. Marilah kita pikirkan bersama, sudah adil-kah yang seperti demikian ?. Ataukah memang di atas bumi ini, yang adalah tempatnya rantai makanan, itu sudah menjadi kewajaran, dan semuanya itu harus berjalan demikian ? Bukankah di bumi ini, kita yang tidak akan pernah bisa menciptakan dan mengadakan, sebenarnya diberi amanah untuk merawat dan melestarikan.

Karena itu jangan heran, kalau para pemimpin dan politisi kumpul2, terus utak-atik bikin acara, hasilnya tetap saja kita2 yang nanggung dan menjadi kurban, bukankah mereka juga nuruti kesenangan dan hoby, senang dan hoby duduk di kursi – lupa amanah.

Lho...mblarah.

Oleh :
Admin. Mancing Kutuk Gabus


Narasumber : Ki Gendeng Kampiran


Rabu, 02 Oktober 2013

Tertawa Yang Sungguh2 Tertawa

Tertawa bareng Cak Pri

Kalau saja dulu itu, saya bisa diterima di Fakultas Kedokteran UNAIR, saya sudah merencanakan akan mendedikasikan dan menghabiskan waktu saya untuk riset tentang hormon yang bisa membuat orang ketawa / tertawa, tertawa yang sungguh2 tertawa. Sayang dengan keterbatasan IQ dan kemampuan yang saya punya, saya tidak  lulus Sipenmaru, dan akhirnya saya harus cukup puas dengan hidup saya seperti sekarang ini, sebagai pelayan toko.  

Namun ketertarikan dan panggilan jiwa ini untuk terus mengamati orang yang sedang ketawa, sampai sekarang tetap menggebu2. Saya senang sekali tertawa, dan saya berusaha untuk selalu tertawa, tetapi saya juga sangat penasaran melihat orang yang sedang tertawa.

Bertahun2 sudah saya menjumpai berbagai macam orang tertawa, saya selidiki dan pelajari gerak-gerik mereka, biasanya saya jadi ikutan tertawa, kadang malah lebih lama dari mereka. Dan supaya penelitian saya lebih valid, meskipun biasanya saya ikutan tertawa, tetapi saya selalu berusaha keras untuk tidak sekalipun menertawakan mereka, namun kadang2 ada beberapa kali gagal, kalau sudah begitu saya segera mencari tempat untuk menyendiri lalu terpingkal2 sendirian, terbahak2, kadang sampai lama sekali, sampai perut mules rasanya.
    
Kemudian saya melihat, berdasarkan berbagai sudut pandang/aspek , ternyata ada bermacam2 jenis tertawa. Berikut ini saya kelompokkan macam2 jenis orang tertawa di dalam table, sayang sampai detik ini saya belum dapat sukarelawan yang mau jadi model untuk memperagakan.


Dasar penggolongan :
Jenis tertawa / nama tertawa
01
Berdasarkan keseriusan
-Ketawa sungguh2 tertawa /ketawa beneran
-Ketawa dibuat / pura2 / ketawa lebay
02
Berdasarkan volume
-Ketawa keras terbahak2
-Ketawa lirih
-Ketawa diam (muted) /ketawa dalam hati
03.
Berdasarkan waktu
-Ketawa lama terpingkal2
-Ketawa sedang
-Ketawa singkat (hanya 1x ha/hi)
04.
Berdasarkan nuansa hati
-Ketawa senang / ketawa puas
-Ketawa lucu, terpingkal2
-Ketawa sedih (tangis dalam tawa)
-Ketawa kesakitan (tertawa merintih)
05
Berdasarkan hubungan dengan obyek
-Ketawa tulus / gembira
-Ketawa sinis / ketawa merendahkan
-Ketawa datar, basa-basi untuk menjaga hubungan
-Ketawa olok2 (bahasa jawa = ngece)
-Ketawa monyet (menyeringai), karena tidak suka
06
Berdasarkan nuansa tawa itu sendiri
-Ketawa senang/ gembira
-Ketawa lucu, terpingkal2
-Ketawa gothic (menyeramkan)
-Ketawa bodoh /blo’on
-Ketawa gila / mabuk

Selain yang tertulis di dalam tabel di atas, tentunya masih banyak macam lagi jenis orang tertawa, karena nyatanya orang bisa saja tertawa karena berbagai macam sebab dan kondisi, dan itu variable. Tetapi secara garis besar, bisa kita ringkas dan kelompokkan lagi menjadi 2, yaitu tertawa yang positif, dan lawannya lagi adalah  tertawa yang negatif.

Karena senang orang tertawa, karena menang orang akan tertawa, demikian pula sedih dan sakit pun ada orang yang bisa tetap tertawa, dan malah tertawa. Contohnya saya sendiri, saya biasa memaksakan diri untuk tertawa, ketika mengalami musibah kecil, atau sesuatu yang menyakitkan saya secara mendadak, misalnya ketika kaki saya kesandung batu, atau terkena palu secara tak sengaja. Itu saya lakukan untuk mengurangi rasa sakit yang saya derita, dan saya juga mengajarkan jurus itu kepada anak dan isteri saya.

Tertawa yang paling positif adalah tertawa yang sungguh2 tertawa, demikian tulus, jujur dan wajar tidak dibuat2, meskipun keras terbahak2 dan terpingkal2, namun tetap saja lucu dan tidak menyeramkan sama sekali, tidak sinis dan tidak akan pernah menyinggung perasaan siapapun, mengekspresikan kegembiraan dan kesenangan serta kepuasan yang mendalam, meskipun lama sampai perut mules, tetapi tidak akan memberi kesan blo’on apalagi kegilaan. Inilah ketawa yang menyehatkan badan, memperpanjang umur, memperbanyak teman, mendatangkan rezeki dan pahala.


Cak Pri tertawa dengan sungguh2 tertawa

 “ Tertawa itu sehat “, saya setuju kalau yang dimaksud itu adalah tertawa yang positif di tempat yang positif dan di saat yang positif pula. Tetapi kalau tertawa dalam artian yang negatif, jelas saya tidak akan sependapat, apakah bisa sehat kalau setiap pelanggan toko saya datang, lalu saya tertawa sinis merendahkan, atau tertawa gila terbahak2 seperti orang mabuk, lebih parah lagi kalau "huaaa….haaaa.hhaaaa..hooo..hooo..! ", tawa gothic menyeramkan.

Kita yang di Mancing Kutuk Gabus khususnya, maupun semua pembaca yang budiman – sahabat sohib saya, sebaiknya konsen dengan tertawa yang positif saja, yang negatif biarlah kutuk2 saja yang melakukan.


Salam sayang selalu dari saya.

Oleh :
Admin. Mancing Kutuk Gabus